Pencemaran Laut



TUGAS PAPER MATA KULIAH

PENCEMARAN LAUT

Oleh :

NAMA          : Adina Feti Nuraini

NIM              : K2D009067

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

JURUSAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2011

1. Apa yang dimaksud dengan pencemaran minyak?

Tumpahan Minyak

Minyak mentah (crude oil) atau minyak bumi (petroleum, berasal dari bahasa Yunani yaitu petros berarti batuan dan oleum berarti minyak) terbentuk dari sisa tanaman atau hewan jutaan tahun lampau sebagai akibat dari pemanasan internal Bumi. Minyak Bumi tersebut merupakan senyawa kimia yang amat kompleks sebagai gabungan dari senyawa hidrokarbon ( dari unsur karbon dan hidrogen ) dan non hidrokarbon ( dari unsur oksigen, sulfur, nitrogen dan trace metal).

Jutaan tahun lampau sebelum manusia memiliki kemampuan memanfaatkan minyak bumi, pencemaran minyak di lautan sebetulnya telah terjadi. Material mengandung minyak yang memasuki lautan berasal dari pembusukan tumbuhan dan hewan secara alami dan melalui presipitasi hidrokarbon dari atmosfer.  Hanya saja sebagian besar pencemar akan di biodegradasi (diuraikan) oleh organisme secara alami (meskipun dalam jangka waktu lama) sehingga dampak buruk terhadap lingkungan menjadi sangat kecil.

Kini, tumpahan minyak diakibatkan oleh kegiatan penambangan lepas pantai, kebocoran dan kecelakaan kapal tanker, kebocoran saluran pipa minyak, dan lainnya,  telah menimbulkan kerusakan yang hebat pada tingkat lokal baik bagi tumbuhan, hewan ataupun pada manusia (secara tidak langsung) (http://wyuliandari.files.wordpress.com/2009/09/).

Tumpahan minyak di laut berasal dari kecelakaan kapal tanker. Contohnya tumpahan minyak terbesar yang terjadi pada tahun 2006 di lepas pantai Libanon. Selain itu, terjadi kecelakaan Prestige pada tahun 2002 di lepas pantai Spanyol. Bencana alam seperti badai atau banjir juga dapat menyebabkan tumpahan minyak. Sebagai contoh pada tahun 2007, banjir di Kansas menyebabkan lebih dari 40.000 galon minyak mentah dari kilang tumpah ke perairan itu (http://id.wikipedia.org/).

Mengingat bahwa tumpahan minyak mentah membawa akibat yang amat luas pada lingkungan laut maka penanganannya tidak bisa diserahkan hanya pada satu institusi pemerintah saja. Perlu melibatkan kerja sama berbagai institusi seperti Departemen Lingkungan Hidup, Departemen Pertambangan dan Energi, Kepolisian, Pemerintah Daerah, Kementrian Riset dan Teknologi, Departeman Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, termasuk pula masyarakat dan kalangan LSM. Kondisi ini perlu dipikirkan sejak dini.

Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa penanggulangan tumpahan minyak bukan hanya meliputi cara pemantauan yang menuntut teknologi yang canggih, cara menghilangkan minyak yang menuntut penggunaan teknologi yang bisa dipertanggungjawabkan dan ramah lingkungan, namun meliputi pula penelitian dampak tumpahan minyak tersebut dan upaya rehabilitasi lingkungan yang tercemar baik hewan, tumbuhan, maupun estetika laut dan pantai.

Bagaimanapun juga luas wilayah laut Indonesia sebesar  2/3 dari seluruh wilayah nusantara, dan pantai sepanjang lebih dari 80.000 km begitu berharga dan harus dijaga. Terlebih bila mengingat bahwa sekarang ini sebagian besar wilayah pantai tersebut telah mengalami kerusakan parah akibat ketidaktahuan, keteledoran, dan penggunaan yang menyalami rambu-rambu keamanan lingkungan.

Tampaknya perlu diberikan aturan yang tegas di dalam hal eksplorasi dan eksploitasi minyak serta penggunaan bahan bakar minyak pada sarana transportasi laut. Dan hukuman yang setimpal bila terjadi penyalahgunaan aturan yang ada.

2. Sebutkan susunan kimiawi Petroluem Hidrokarbon.

Minyak adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan produk petroleum yang penyusun utamanya terdiri dari hidrokarbon. Minyak mentah dibuat dari hidrokarbon berspektrum lebar yang berkisar dari sangat mudah menguap, material ringan seperti propana dan benzena sampai pada komposisi berat seperti bitumen, aspalten, resin dan wax. Produk pengilangan seperti petrol atau bahan bakar terdiri dari komposisi hidrokarbon yang lebih kecil dan kisarannya lebih spesifik.

Struktur kimia petroleum terdiri atas rantai hidrokarbon dalam ukuran panjang yang berbeda. Perbedaan kimia hidrokarbon ini dipisahkan oleh distilasi pada penyulingan minyak untuk menghasilkan gasoline, bahan bakat jet, kerosin, dan hidrokarbon lainnya. Formula umum untuk hidrokarbon ini adalah CnH2n+2. Contohnya 2,2,4-Trimethylpentane, banyak digunakan pada gasoline, memiliki formula kimia C8H18 yang bereaksi dengan oksigen.

C8H18(aq) + 12.5O2(g) → 8CO2(g) + 9H2O(g) + panas

Pembakaran tidak sempurna pada petroleum atau gasoline menghasilkan emisi gas beracun seperti karbon monooksida dan/atau nitrit oksida. Contohnya:

C8H18(aq) + 12.5O2(g) + N2(g) → 6CO2(g) + 2CO(g) + 2NO(g) + 9H2O(g) + panas

Formasi petroleum kebanyakan terjadi dalam bermacam reaksi endotermik pada tekanan dan/atau suhu tinggi. Contohnya, kerosin dapat pecah menjadi hidrokarbon dalam panjang yang berbeda.

CH1.45(s) + heat → .663CH1.6(aq) + .076CH2(aq) + .04CH2.6(g) + .006CH4(g) + .012CH2.6(s) + .018CH4.0(s) + .185CH.25(s) (http://lh4.ggpht.com/).

Susunan Hidrokarbon dalam Minyakbumi

Umumnya Petroleum berupa :

Persentase Unsur – Unsur
80 – 85 % unsur C
15 – 20 % unsur H
< 5% unsur O, N, S, dll.

Berdasar komposisi kimia komponen utamanya, petroleum adalah suatu seri homolog. (setiap penambahan atom C membuat senyawa ini memiliki rantai kimia yang makin panjang dan kompleks tetapi tetap memiliki pola yang serupa)

Minyak Bumi terdiri dari dua unsur dominan yaitu Hidrogen dan Karbon, namun kedua unsur ini dapat membentuk berbagai macam senyawa molekuler yang memiliki rantai panjang dan struktur lingkaran. Lebih lagi rantai yang terdiri dari C dan H ini dapat memiliki cabang ke berbagai arah hingga dapat membentuk berbagai macam struktur tiga dimensi. Salah satu sifat hidrokarbon ialah membentuk struktur molekul yang berlainan dengan susunan / rumus kimia yang sama. Hal yang demikian disebut isomer.

Selain dapat membuat rantai panjang dan struktur isomer, hidrokarbon juga dapat bersifat jenuh dan tak-jenuh. Bersifat jenuh jika terdapat ikatan rangkap satu saja (alkana). Sedangkan jika pada rangkaian tersebut terdapat ikatan rangkap dua (alkena) ataupun rangkap tiga (alkuna) akan bersifat tak-jenuh.

Ada beberapa sifat-sifat khusus lainnya dalam susunan minyak bumi. Pada umumnya hanya memperlihatkan susunan hidrokarbon yang bersifat jenuh.

Hidrokarbon yang terdapat di dalam minyak bumi merupakan berbagai macam seri homolog. Homolog merupakan suatu seri susunan hidrokarbon berdasarkan penambahan atom C sehingga akan membentuk suatu susunan yang hampir sama, menjadi lebih panjang ataupun membentuk suatu pola lingkaran.

Rantai menerus yang berasal dari senyawa di berbagai jenis minyakbumi ialah golongan isomer dari seri homolog. Anggota pertama dari seri homolog selalu lebih banyak terkonsentrasi di dalam minyakbumi dibandingkan anggota lainnya yang susunan molekulnya lebih berat.

Dua Kelompok Utama Seri Homolog

I. Golongan Alifatik

II. Golongan Siklik

1. Golongan Alifatik (Alkana atau Parafin)

Seri Parafin

Anggota n-parafin yang memiliki rumus umum berupa Cn H(2n+2) ini, berjumlah sebesar 25% dari suatu minyakbumi, namun belum termasuk gas-gasnya. Dalam fraksi bensin, kandungan seri hidrokarbon berantai lurus ini dapat mencapai 80%, sedangkan dalam minyak pelumas 0% – 25%. Minyakbumi yang bersifat ringan biasanya mengandung C5–C20 hingga penyusun utamanya. Kandungan seri ini dapat menurun hingga 0.7%-0.1% pada minyakbumi yang lebih berat.

Propinsi Kalimantan Timur dikenal sebagai salah simpul utama investasi di Indonesia. Iklim investasi yang kondusif di dunia industri, melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber daya alam selain memberikan sumbangsih yang besar bagi pertumbuhan ekonomi provinsi juga berpotensi menyebabkan peningkatan resiko pencemaran dan perusakan lingkungan. Di Propinsi Kalimantan Timur, industri berbasis kelautan seperti industri galangan kapal, tranportasi, perikanan, pelayaran, pertanian, kehutanan dan eksplorasi migas menjadi sektor industri unggulan. Beberapa dampak yang umum dijumpai dari kontaminasi dan pencemaran ke lingkungan antara lain adalah menghilangnya vegetasi dan fauna endemik, rusaknya struktur fisik vegetasi dan ekosistem laut dan pantai seperti terumbu karang, mangrove dan padang lamun, pada daerah onshore dimana instalasi industri berdiri dampak yang dapat diidentifikasi adalah menghilangnya lapisan top soil yang memiliki nilai penting secara biologis serta dihasilkannya limbah yang masuk didalam kategori B3 (bahan beracun berbahaya). Sebagai contoh, drill cutting, oil based mud, slop minyak, sludge minyak dan residu dasar tangki, adalah limbah B3 (kode limbah : D220 dan D221) dari kegiatan migas yang menurut PP No. 18 Jo. 85 Tahun 1999 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan baik secara biologi, geologi, fisik, kimia dan sosekbud.

Berangkat dari permasalahan diatas, diperlukan suatu program pengelolaan lingkungan yang efektif dan efisien terhadap pengeolaan limbah minyak hasil kegiatan industri sehingga dampak balik (reverse effect) dari manfaat kegiatan eksplorasi dan eksploitasi tidak menurunkan ataupun merusak kualitas lingkungan dan kesehatan manusia.

Karakteristik Minyak Bumi (crude oil).

Limbah minyak yang berasal dari minyak mentah (crude oil) terdiri dari ribuan konstituen pembentuk yang secara struktur kimia dapat dibagi menjadi lima famili:

a. Hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbons), merupakan kelompok minyak yang dicirikan dengan adanya rantai atom karbon (bercabang atau tidak bercabang atau membentuk siklik) berikatan dengan atom hidrogen, dan merupakan rantai atom jenuh (tidak memiliki ikatan ganda). Termasuk dalam kelompok ini adalah golongan alkana (paraffin), yang mewakili 10-40 % komposisi minyak mentah. Senyawa alkana bercabang (branched alkanes) biasanya terdiri dari alkana bercabang satu ataupun bercabang banyak (isoprenoid), contoh dari senyawa ini adlah pristana, phytana yang terbentuk dari sisa-sisa pigment chlorofil dari tumbuhan. Kelompok terakhir dari famili ini adalah napthana (Napthenes) atau disebut juga cycloalkanes atau cycloparaffin. Kelompok ini secara umum disusun oleh siklopentana dan siklohexana yang masanya mewakili 30-50% dari massa total minyak mentah.

b. Aromatik (Aromatics). Famili minyak ini adalah kelas hidrokarbon dengan karakteritik cincin yang tersusun dari enam atom karbon. Kelompok ini terdiri dari benzene beserta turunannya (monoaromatik dan polyalkil), naphtalena (2 ring aromatik), phenanthren (3 ring), pyren, benzanthracen, chrysen (4 ring) serta senyawa lain dengan 5-6 ring aromatic. Aromatik ini merupakan komponen minyak mentah yang paling beracun, dan bisa memberi dampak kronik (menahun, berjangka lama) dan karsinogenik (menyebabkan kanker). Hampir kebanyakan aromatik bermassa rendah (low-weight aromatics), dapat larut dalam air sehingga meningkatkan bioavaibilitas yang dapat menyebabkan terpaparnya organisma didalam matrik tanah ataupun pada badan air. Jumlah relative hidrokarbon aromatic didalam mnyak mentah bervariasi dari 10-30 %.

c. Asphalten dan Resin. Selain empat komponen utama penyusun minyak tersebut di atas, minyak juga dikarakterisasikan oleh adanya komponen-komponen lain seperti aspal (asphalt) dan resin (5-20 %) yang merupakan komponen berat dengan struktur kimia yang kompleks berupa siklik aromatic terkondensasi dengan lebih dari lima ring aromatic dan napthenoaromatik dengan gugus-gugus fungsional sehingga senyawa-senyawa tersebut memiliki polaritas yang tinggi.

d. Komponen non-hidrokarbon. Kelompok senyawa non-hidrokarbon terdapat dalam jumlah yang relative kecil, kecuali untuk jenis petrol berat (heavy crude). Komponen non-hidrokarbon adalah nitrogen, sulfur, dan oksigen, yang biasanya disingkat sebagai NSO. Biasanya sulphur lebih dominant disbanding nitrogen dan oxygen, sebaga contoh, minyak mentah dari Erika tanker mengandung kadar S, N dn O berturut-turut sebesar 2.5, 1.7, dan 0.4 % (Baars, 2002).

e. Porphyrine. Senyawa ini berasal dari degradasi klorofil yang berbentuk komplek Vanadium (V) dan Nikel (Ni) (http://siebud.blogspot.com/).

3. Sebutkan sumber-sumber pencemaran minyak.

Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.

1.        Tumpahan Minyak Di Teluk Meksiko

British Petroleum perusahaan minyak Inggris, telah mempublikasikan dan memperbaharui informasi sepanjang dua minggu terakhir dalam bentuk suatu “live feed” di situs web BP: Gulf of Mexico Responses, yang ditujukan kepada pihak-pihak pemerintah terkait penanggulangan tumpahan minyak Teluk Meksiko, seperti yang disampaikan BP, dalam Informasi tersebut sebagai bentuk tanggapan BP atas permintaan pemerintahan Obama.

Pemerintahan Obama telah memerintahkan BP untuk merilis data yang berkaitan dengan tragedi tumpahan minyak di Teluk Meksiko, seperti yang dilaporkan CNN [2], bahwa pada hari Kamis (20/05/2010) lalu pemerintahan Obama menyatakan telah memerintahkan BP untuk mengumumkan semua data yang terkait dengan tumpahan minyak, termasuk analisis sampling lingkungan, laporan penyelidikan internal dan rincian dari upaya-upaya penanggulangan pencemaran.

US Environmental protection Agency (EPA) mengatakan BP diminta untuk mempublikasikan informasi tersebut di suatu situs web dan di-update setiap hari. Krisis Teluk Meksiko sedang berlangsung akibat tumpahan minyak lebih dari 4.000.000 galon minyak mentah yang terus menyembur keluar dari lokasi pengeboran laut (Rig Deepwater Horizon) BP. Tumpahan minyak BP ini adalah terburuk yang pernah dialami dan upaya untuk menutup semburan minyak, belum berhasil.

Pada malam 20 April 2010, Rig “Deepwater Horizon” meledak, dan dua hari kemudian, tenggelam di Teluk Meksiko. Sebelas pekerja tewas. Rig itu dioperasikan oleh perusahaan minyak raksasa BP Inggris namun dimiliki oleh Transocean, perusahaan pengeboran lepas pantai terbesar di dunia. Insiden itu telah menyebabkan bencana tumpahan minyak yang tak terkendali.

Penutup pipa bercorong yang diharapkan mengurangi semburan minyak di Teluk Meksiko oleh menunjukkan keberhasilan kecil. Direktur perusahaan minyak British Petroleum, BP menyatakan, minyak bumi yang bisa ditampung melalui corong itu mencapai 160 ribu liter atau 10 ribu barel sehari. Jumlah ini jauh dibawah prediksi awal sekitar 19 ribu barel seharinya. Sementara minyak yang masih terus menyembur ke laut sangat banyak.

Sudah lebih dari 70 juta liter minyak yang mencemari teluk Meksiko dalam bencana ekologi terburuk di dunia ini. Diperkirakan, kebocoran pipa itu baru akan tuntas diatasi Agustus mendatang. Ahli perlindungan hayati organisasi PBB – UNEP, Tim Kasten bertanya-tanya, “bagaimana mungkin, bahwa kita sekarang tidak mampu mengatasi masalah seperti ini, padahal kita melakukan pemboran minyak di seluruh dunia?”

Bagi Tim Kasten, dampak ekologi bencana teluk Meksiko sulit dibayangkan. Dua puluh tahun lalu, Kasten bekerja di Kementrian Lingkungan Hidup AS ketika kapal tanker Exxon Valdez menyebabkan bencana serupa di Alaska. Dari pengalaman itu ia menyadari, bahwa untuk mengetahui dampak dan biaya akibat bencana itu akan butuh waktu yang lama. Tuturnya, “Masalahnya bukan pada biaya dan kesulitan yang dihadapi dalam menyedot tumpakan minyaknya saja, melainkan soal pemulihan sistem ekologinya. Ini memerlukan beberapa tahun.“

Kasten baru menyelesaikan sebuah penelitian mengenai biaya dan kegunaan pemulihan sistem ekologi yang rusak. Hasilnya: melakukan investasi untuk mengembalikan alam ke kondisi awalnya hampir selalu lebih menguntungkan. Misalnya, untuk penghutanan kembali pegunungan Drakenberg , pemerintah Afrika Selatan awalnya menginvestasi 3,5 juta Euro, ditambah ongkos pelestarian 1 juta Euro setiap tahunnya. Namun keuntungan yang diraih dari tindakan itu, seperti bertambahnya persediaan air minum, berkurangnya sedimen di sungai-sungai serta sejumlah hal lain menunjukkan bahwa pengeluaran itu dalam satu tahun sudah impas. Penghutanan kembali pegunungan Drakenberg merupakan salah satu kisah sukses bidang ekologi dan ekonomi.

Terkait pencemaran Teluk Meksiko, Kasten, tak berani mengatakan apakah kondisi awalnya bisa dipulihkan. “Sulit sekali untuk menilai harga pencemaran minyak di Louisiana ini. Sekarang kita baru melihat dampaknya pada dunia binatang, kemudian ditambah dampaknya pada sektor perikanan dan turisme yang saat ini sebenarnya memasuki masa-masa liburan. Ini saja sudah berarti kerugian milyaran dolar.”

Saat ini lapisan minyak sudah bergerak sejauh 320 kilometer dari pusat semburan pipa yang bocor. Berbentuk ribuan tumpahan kecil yang di terus dorong angin dan mengancam 4 negara bagian. Apabila lapisan minyak ini meluas ke lebih banyak negara bagian, maka biaya penanggulangannya juga akan melonjak.

Menurut Kasten yang perlu diperhatikan adalah penggunaan bahan kimia yang dibutuhkan. Ungkapnya, “Jumlah bahan kimia yang digunakan juga sangat menentukan, Karena bahan-bahan itu memiliki dampak negatif pada lingkungan, meskipun dianggap tidak seburuk dampak cemaran minyak bumi itu“

Kasten memperkirakan, proses pemulihan lingkungan akan dimulai segera setelah seuruh kebocoran minyak itu dihentikan. “Semua pihak yang terimbas bencana ini harus terlibat. Selain itu, perlu menggunakan pengetahuan ilmiah yang mutakhir untuk memastikan neraca antara biaya dan hasil investasi itu. Menurut pengalaman, hasil akhir yang dicapai selalu membenarkan biaya melakukan pemulihan ekologis”.

Semakin lama semburan minyak mengancam teluk Meksiko akan semakin panjang pula rekening yang harus dibayar. Menurut pakar UNEP, Tim Kasten biaya perlindungan pantai untuk kawasan rawa di teluk Meksiko setiap tahunnya mencapai 18 milyar Euro. Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia (05/06) bencana pencemaran minyak di Teluk Meksiko bagaikan peringatan bahwa manusia harus berhati-hati ketika mengeksploitasi alam.

Sejak zaman dahulu manusia banyak yang menggantungkan hidupnya di laut. Hubungan yang erat antara antara manusia dan laut telah lama terjadi. Di kepulauan Riau misalnya ada sekelompok masyarakat yang hidup di perahu, orang menyebutnya Suku Laut.

Begitu pula di perairan kalimantan Timur, terdapat Suku Bajau Pela’u yang hidup berpindah-pindah di perbatasan Philipina, Malysia, dan Indonesia. Begitu besarnya sumber daya alam laut, sehingga suku-suku laut tersebut bisa hidup hanya menggantungkan diri pada kemurahan laut dan isinya.

Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbaharui

Laut memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah di dalamnya. Walaupun  kekayaannya terus menerus dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, namun sepertinya kekayaan tersebut tidak ada habis-habisnya. Oleh karena itulah, sumber daya laut dikategorikan sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

Biota laut dapat melangsungkan dan melanjutkan kehidupannya sebagai proses alamiah untuk menjaga keseimbangan alam. Jadi, selama tidak ada tangan-tangan jahat yang  merusak ekosistemnya, keseimbangan kehidupan di laut dapat  terus  dipertahankan.

Pemanfaatan Sumber Daya Laut

Berbagai jenis ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, seperti kakap, tuna, cakalang, kerapu, baronang, ekor kuning, dan sebagainya. Demikian pula dengan  udang, kerang, cumi-cumi, lobster, dan rumput laut telah tersedia dan siap dimanfaatkan oleh manusia.

Pencemaran Laut

Saat ini, pencemaran laut telah terjadi di mana-mana, dengan kualitas dan kuantitas pencemaran yang sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan karena dapat merusak  ekosistem di dalamnya. Berbagai modus pengrusakan dan pencemaran terjadi setiap hari, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Pembuangan limbah

Kapal-kapal besar seringkali membawa limbah, baik cair maupun padat untuk kemudian sengaja dibuang di tengah laut.

  • Tumpahan minyak

Kecelakaan yang melibatkan kapal tanker bisa  berakibat fatal bagi ekosietem laut. Ribuan metrik ton minyak yang tumpah akbat tabrakan kapal tanker bisa langsung mematikan hewan dan tumbuhan di dalamnya.

  • Pemakaian peledak

Kapal penangkap ikan yang menggunakan peledak berkekuatan besar, bukan saja dapat mematikan ikan kecil yang dapat berakibat terjadinya kelangkaan namun juga dapat menghabisi  kehidupan di sekitar terumbu karang (http://static.ak.fbcdn.net/rsrc.php/v1/zb/r/L6P2fymQtet.png).

2.        Prestige Oil Spill (Kerugian mencapai $12 Miliar)

Tumpahan minyak Prestige adalah tumpahan minyak di lepas pantai Galicia disebabkan oleh tenggelamnya kapal tanker minyak 77.000 ton bahan bakar minyak pada tahun 2002. Tumpahan minyak tersebut sampai ribuan kilometer dari garis pantai dan lebih dari seribu pantai di pantai Spanyol dan Perancis, serta menyebabkan kerugian besar bagi industri perikanan lokal. Tumpahan ini adalah bencana lingkungan terbesar dalam sejarah Spanyol. dikarenakan Takut kapalnya akan tenggelam, kapten meminta bantuan untuk menyelamatkan pekerja ke Spanyol, mengharapkan mereka mengirim kapal untuk membawa perkerja ke pelabuhan. Namun, tekanan dari pihak yang berwenang memaksa kapten untuk membawa kapal jauh dari pantai. Kapten juga mencoba untuk mendapatkan bantuan dari Perancis dan Portugis, tetapi mereka juga memerintahkan kapal untuk menjauh dari pantai. Badai yang akhirnya membawa kapal ke dasar lautan, dan melepaskannya 20 juta galon minyak ke laut.

Menurut laporan oleh Dewan Pontevedra Economist, total biaya pembersihan adalah sebesar $ 12 miliar http://en.wikipedia.org/wiki/Prestige_oil_spill

3.        Kandasnya Kapal Exxon Valdez,Kerugian $2.5 Miliar

Dong Fang Ocean, sebelumnya Exxon Valdez, Exxon Mediterania, SeaRiver Mediterania, S / R Mediterania, dan Mediterania, adalah sebuah kapal tanker minyak yang menjadi terkenal setelah menjalankan kandas di Prince William Sound menumpahkan ratusan ribu barel minyak mentah di Alaska. Pada tanggal 24 Maret 1989, sedangkan yang dimiliki oleh mantan Perusahaan Pengiriman Exxon, dan kapten oleh Joseph Hazelwood menuju Long Beach, California, kapal tersebut kandas di Bligh Reef mengakibatkan tumpahan minyak kedua terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.  Ukuran tumpahan diperkirakan 40.900 menjadi 120.000 m3 (10.800.000 ke 32.000.000 USgal), atau 257.000 sampai 750.000 barel.Pada tahun 1989, tumpahan minyak Exxon Valdez terdaftar sebagai tumpahan ke-54 terbesar dalam sejarah.

Name: Dong Fang Ocean
Owner: Hong Kong Bloom Shipping Ltd. (2008-present)
SeaRiver Maritime (1989-2008)
Exxon (1986-1989)
Port of registry: Panama (2008-present)
Marshall Islands (2005-2008)
United States (1986-2005)
Ordered: 1 August 1984
Builder: National Steel and Shipbuilding Company
San Diego, California
Laid down: 24 July 1985
Launched: 14 October 1986
In service: 11 December 1986
Out of service: Active as of July 2010
Renamed: Exxon Valdez (1986-1989)
Exxon Mediterranean (1990-1993)
Sea River Mediterranean (1993-2005)
S/R Mediterranean (1993-2005)
Mediterranean (2005-2008)
Dong Fang Ocean (2008-present)
Refit: 30 June 1989
Identification: Call sign: 3EPL6
IMO number: 8414520
MMSI number: 356270000
Notes:
General characteristics
Class and type : VLCC Oil tanker
Type               : ABS: A1, Ore Carrier, AMS, ACCU, GRAB 25
Tonnage          : 209,836 DWT
Displacement   : 211,469 tons (214,862 metric tons)
Length             : 300 m (980 ft)
Beam               : 51 m (167 ft)
Draught            : 20 m (66 ft)
Deck clearance : 7.183 to 7.442 m (23.57 to 24.42 ft)
Installed power : 31,650 bhp (23,601 kW) at 79 rpm
Propulsion        : Eight-cylinder, reversible, slow-speed Sulzer marine diesel engine.
Speed              : 16.25 knots (30.10 km/h; 18.70 mph)
Capacity           : 1.48 million barrels (235,000 m³) of crude oil
Crew: 21

http://en.wikipedia.org/wiki/Exxon_Valdez

4.        Pengeboran di laut

Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow aut) di sumur minyak. Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan pencemaran. Contohnya, ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010. Pencemaran laut yang diakibatkan oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya (http://id.wikipedia.org/).

4. Apa yang dimaksud dengan “Fate of Oil Spill” atau Weathering. Jelaskan.

Wathering/ Pelapukan Pada Tumpahan Minyak Bumi

Proses transformasi oil spill di laut yaitu ketika oil spill terjadi di lingkungan laut, minyak akan mengalami serangkaian perubahan/pelapukan (weathering) atas sifat fisik dan kimiawi. Sebagian perubahan tersebut mengarah pada hilangnya beberapa fraksi minyak dari permukaan laut, sementara perubahan lainnya berlangung dengan masih terdapatnya bagian material minyak di permukaan laut. Meskipun minyak yang tumpah pada akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.

Weathering atau pelapukan minyak adalah proses penghamburan minyak yang tumpah hasil dari sejumlah proses kimia dan fisik yang mengubah komposisi. Minyak akan mengalami pelapukan dalam cara-cara yang berbeda. Beberapa prosesnya, seperti pada pendispersian alami minyak ke dalam air, mengakibatkan bagian dari minyak meninggalkan permukaan air laut, dan sisanya, seperti pada proses evaporasi atau formasi air pada emulsi minyak, mengakibatkan minyak yang tersisa pada permukaan dan tinggal dalam waktu lama (persisten).

Meskipun minyak yang tumpah pada akhirnya akan terurai/terasimilisi oleh lingkungan laut, namun waktu yang dibutuhkan untuk itu tergantung pada karakteristik awal fisik dan kimiawi minyak dan proses peluruhan (weathering) minyak secara alamiah.

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi perubahan sifat minyak adalah:

a.       Karaterisik fisika minyak, khususnya gravitasi spesifik, viskositas dan rentang didih.

b.      Komposisi dan karakteristik kimiawi minyak;

c.       Kondisi meteorologi (sinar matahari (fotooksidasi), kondisi oseanograpi dan temperatur udara); dan

d.      Karakteristik air laut (pH, gravitasi spesifik, arus, temperatur, keberadaan bakteri, nutrien, dan oksigen terlaut serta padatan tersuspensi).

Cara dimana lapisan minyak pecah dan menyebar sangat tergantung pada ketahanan (tingkat persisten) minyak tersebut. Produk ringan seperti kerosin cenderung terevaporasi, tersebar dengan cepat, dan tidak perlu pembersihan sebab akan hilang secara alami. Ini dinamakan minyak non-persisten. Sebaliknya, minyak persisten seperti pada kebanyakan minyak mentah, pecah dan menyebar lebih lambat dan biasanya memerlukan tindakan pembersihan. Sifat fisika seperti densitas, viskositas, dan titik alir minyak, semuanya mempengaruhi sifat penyebarannya.

Penyebaran tidak terjadi tiba-tiba. Waktu penyebarannya tergantung sejumlah faktor, termasuk jumlah dan tipe tumpahan minyak, kondisi cuaca, dan jika minyak tertinggal di laut atau terbawa ke darat. Kadang-kadang, prosesnya cepat dan pada waktu lain terjadi dengan lambat, terutama di perairan tertutup dan tenang.

Proses pelapukan (Wathering) tumpahan minyak di laut terjadi ke dalam beberapa mekanisme diantaranya : melalui pembentukan lapisan ( slick formation ), penyebaran (dissolution), pergeseran, penguapan (evaporation), polimerasi (polymerization), emulsifikasi (emulsification), emulsi air dalam minyak ( water in oil emulsions ), emulsi minyak dalam air (oil in water emulsions), fotooksida, biodegradasi mikorba, sedimentasi, dicerna oleh planton dan bentukan gumpalan.

Hampir semua tumpahan minyak di lingkungan laut dapat dengan segera membentuk sebuah lapisan tipis di permukaan. Hal ini dikarenakan minyak tersebut digerakkan oleh pergerakan angin, gelombang dan arus, selain gaya gravitasi dan tegangan permukaan. Beberapa hidrokarbon minyak bersifat mudah menguap, dan cepat menguap. Proses penyebaran minyak akan menyebarkan lapisan menjadi tipis serta tingkat penguapan meningkat.

Hilangnya sebagian material yang mudah menguap tersebut membuat minyak lebih padat/ berat dan membuatnya tenggelam. Komponen hidrokarbon yang terlarut dalam air laut, akan membuat lapisan lebih tebal dan melekat, dan turbulensi air akan menyebabkan emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Ketika semua terjadi, reaksi fotokimia dapat mengubah karakter minyak dan akan terjadi biodegradasi oleh mikroba yang akan mengurangi jumlah minyak.

Proses pembentukan lapisan minyak yang begitu cepat, ditambah dengan penguapan komponen dan penyebaran komponen hidrokarbon akan mengurangi volume tumpahan sebanyak 50% selama beberapa hari sejak pertama kali minyak tersebut tumpah. Produk kilang minyak, seperti gasoline atau kerosin hamper semua lenyap, sebaliknya minyak mentah dengan viskositas yang tinggi hanya mengalami pengurangan kurang dari 25% (http://lh4.ggpht.com/).

5. Jelaskan mengenai Contingency Planning.

Adalah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi apabila terjadi kesalahan dalam suatu situasi yang tidak diinginkan. Dalam pelaksanaanya yakni dengan membuat suatu perencana dengan cara mengidentifikasi kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan kemudian membuat sebuah strategi dan pendekatan untuk menghindari, mengatasi atau bahkan mengeksploitasi dampak yang akan terjadi.

Perencanaan kontingensi adalah keterampilan, “Bagaimana jika?” penting dalam semua jenis domain perencanaan, tapi terutama di domain diperebutkan dan kompetitif. Tujuan dari perencanaan darurat adalah untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sebuah rencana untuk setiap kontingensi mungkin dan dikembangkan untuk mengeksplorasi dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apapun yang tidak diinginkan.

Tujuan dari perencanaan darurat adalah untuk mendorong orang berpikir tentang peristiwa darurat yang kemungkinan akan terjadi dan membuat perencanaan penangulangan sebagai respon yang memungkinkan untuk dilakukan.

Pertanyaan-pertanyaan berikut adalah kerangka yang bisa dikembangkan dalam membuat sebuah perencanaan darurat, diantaranya :

a.       Bencana atau peristiwa apa yang membutuhkan penanggulangan secara cepat?

b.      Bencana atau peristiwa apa yang mungkin terjadi selama pelaksanaan sebuah rencana?

c.       Aktivitas terburuk apa yang bisa dilakukan untuk merespon keadaan darurat yang terjadi?

d.      Perencanaan seperti apa yang mungkin dilakukan dalam menghadapi sebuah situasi darudat?

e.       Apa yang bisa menyebabkan gangguan terbesar dalam pelaksanaan sebuah perencanaan?

f.       Rencana penanggulangan opsi apa yang bisa dilakukan apabila rencana pertama memerlukan biaya yang besar dalam pembuatannya?

g.      Siapa atau apa yang mungkin menghambat pelaksanaan rencana tersebut? (http://lh4.ggpht.com/)

6. Jelaskan metode penanggulangan minyak di laut.

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan tumpahan minyak (oil spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas penerima “reservoar” baik dalam bentuk tangki ataupun balon. Langkah penanggulangan ini akan sangat efektif apabila dilakukan di perairan yang memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut, ombak, dll) dan cuaca yang tidak ekstrem.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.

a.         In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Beberapa kendala dari cara ini adalah pada peristiwa tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak dan mempertahankan pada ketebalan yang cukup untuk dibakar serta evaporasi pada komponen minyak yang mudah terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam di dasar laut akan memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api yang tidak terkontrol.

b.         Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada jam-jam awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, arus dan gelombang mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.

c.         Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya, cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.

d.        Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon)

e.         Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif permukaan) (http://lh4.ggpht.com/).

Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan.[6] Ada 2 jenis pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing).

  • Pengamatan secara visual

Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya.

  • Pengamatan penginderaan jauh

Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, dan Landsat Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat.

Penanggulangan

Booms digunakan untuk menghambat perluasan limbah minyak di laut.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil.

  • In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol.
  • Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.
  • Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.
  • Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon).
  • Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan.
  • Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.
Peralatan

Pembersihan limbah minyak di kawasan pantai.

Alat-alat yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak:

  • Booms merupakan alat untuk menghambat perluasan hambatan minyak.
  • Skimmers yaitu kapal yang mengangkat minyak dari permukaan air.
  • Sorbent merupakan spons besar yang digunakan untuk menyerap minyak.
  • Vacuums yang khusus untuk mengangkat minyak berlumpur dari pantai atau permukaan laut.
  • Sekop yang khusus digunakan untuk memindahkan pasir dan kerikil dari minyak di pantai (http://id.wikipedia.org/).

Sebelum upaya penanggulangan tumpahan minyak dilakukan, maka tindakan pertama yang diambil adalah melakukan pemantauan tumpahan yang terjadi guna mengetahui secara pasti jumlah minyak yang lepas ke lautan serta kondisi tumpahan, misalnya terbentuknya emulsi.

Ada dua jenis upaya yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing). Karena ada keterbatasan pada masing-masing teknik tersebut, seringkali digunakan kombinasi beberapa teknik.

Pengamatan visual melalui pesawat merupakan teknik yang reliable, namun sering terjadi pada peristiwa tumpahan minyak yang besar dengan melibatkan banyak pengamat, laporan yang diberikan sangat bervariasi.

Ada beberapa faktor yang membuat pemantauan dengan teknik ini menjadi kurang dapat dipercaya seperti pada tumpahan jenis minyak yang sangat ringan akan segera mengalami penyebaran (spreading ) dan menjadi lapisan sangat tipis. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang atau pelangi. Namun, seringkali penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut. Karenanya, pengamatan ketebalan minyak berdasarkan warna slick kurang bisa dipercaya. Faktor lainnya adalah kondisi lingkungan setempat dan prediksi  coverage area.

Cara kedua dengan menggunakan metode penginderaan jarak jauh yang dilakukan dengan berbagai macam teknik seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR) yang telah digunakan secara luas. SLAR memiliki keuntungan yaitu bisa dioperasikan segala waktu dan segala cuaca, menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil pengindraan lebih detail dengan kekintrasan tinggi dan bisa ditransmisikan. Sayangnya teknik ini hanya bisa mendeteksi laisan minyak yang tebal dan tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah air dan kondisi laut sangat tenang.

Selain SLAR digunakan pula teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner dan LANDSAT Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan besama guna menghasilkan informasi yang akurat dan cepat.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.

In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api.

Beberapa kendala dari  cara ini adalah pada peristiwa tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak dan mempertahankan pada ketebalan yang cukup untuk dibakar serta evaporasi pada komponen minyak yang mudah terbakar. Sisi lain, residu pembakara yang tenggelam di dasar laut akan memberikan efek buruk bagi ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api yang tidak terkontrol.

Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.

Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada jam-jam awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, aur dan gelombang mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.

Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga kecil, cara ini bisa mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya, cara ini hanya bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.

Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan.

Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon)

Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif permukaan) (lebih jauh lihat : Dispersan Kimiawi, Salah Satu Solusi Pencemaran Minyak di Laut ) (http://wyuliandari.wordpress.com/).

Daftar Pustaka

Ramadhany, Dedy. 2009. Bioremediasi. Syakti, Agung Damar. 2008. Multi-Proses Remediasi di Dalam Penanganan Tumpahan Minyak (Oil Spill) di Perairan Laut dan Pesisir. http://pksplipb.or.id.

Zhu, Xueqing. 2004. Pedoman Untuk Bioremediasi of Garam Terkontaminasi Minyak Rawa. http://www.google.com.

Sumastri. Bioremediasi Lumpur Minyak Bumi Secara Pengomposan Menggunakan Kultur Bakteri Hasil Seleksi.

Wulandari, annisa. “Bioremediasi Minyak Bumi.” http://annisa-wulandari-wulan.blogspot.com.

Anonym. “Minyak Bumi.” http://okochan.multiply.com (diakses pada tanggal 11 Februari 2011)

anonim. “Analisis pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak.” http://furkonable.wordpress.com.

anonim. “Informasi Tumpahan Minyak di Teluk Meksiko”. http://blogodril.blogspot.com.

Serta diambil dari beberapa blog dan artikel. Artikel yang lain dapat dicari (searching) di Google.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s