Sebaran Bakteri Pemecah Minyak di Teluk Ambon

TUGAS PAPER MATA KULIAH

PENCEMARAN LAUT

Sebaran Bakteri Pemecah Minyak di Teluk Ambon

 

OLEH:

ADINA FETI NURAINI

K2D 009 067

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

JURUSAN ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2011

PENDAHULUAN

Latar Belakang.

Masalah pencemaran laut di Indonesia mulai muncul sebgai masalah nasional barangkali setelah peristiwa kandasnya kapal tanki raksasa “SHOWA MARU”. Kapal tanki raksasa ini terdampar di selat Singapura pada tanggal 6 Januari 1975 di Buffalo Rock tepat di dalam wilayah teritorial Indonesia, menumpahkan minyak mentah 3000-4000 ton dan menyebabkan kerugian kira-kira US$ 13,5 juta bagi Indonesia (Cautrier, 1976). Setelah peristiwa ini peristiwa mintak tumpah terjadi berkali-kali di berbagai perairan di Indonesia.

Pencemaran laut itu sendiri sudah terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Di banyak wilayah perairan kita, terutama di teluk Jakarta, pencemaran non minyak telah dideteksi oleh LON-LIPI tahun 1974. Di tahun ini dan tahun berikutnya dilakukan penelitian sebaran pestisida oleh sekelompok peneliti di berbagai tempat di wilayah pantai, seperti di Jepara, Surabaya, Medan dll.

Cepatnya perkembangan industri dan pertanian di Indonesia menyebabkan cepatnya peningkatan mutu maupun jumlah pencemar maupun frekuensi kejadiannya di perairan kita. Usaha untuk memerangi dampak negatif dari pencemaran laut ini telah dan sedang dilakukan. Mengingat luasnya perairan kita dan beragamnya kemampuan masing-masing wilayah serta beragamnya kebijaksanaan masing-masin daerah, maka salah satu cara memerangi pencemaran laut adalah dengan menciptakan jaringan pemantauan pencemaran laut. Jaringan ini harus didukung oleh jaringan data dan informasi (Romimohtarto, 1977)

PEMBAHASAN

Secara umum perairan di Indonesia sangat rawan dengan pencemaran minyak. Hal ini disebabkan karena banyak terdapat lading-ladang minyak di laut yang mengakibatkan terjadinya jalur transportasi minyak. Perairan Indonesia merupakan negara kepulauan yang menjadi jalur transportasi minyak dari Timur Tengah ke Jepang dan terus meningkat dari hari ke hari. Demikian juga yang terjadi di perairan teluk Ambon yaitu sebagai pelabuhan besar KTI yang mengakibatkan lalu lintas laut menjadi semakin padat. Perairan teluk Ambon juga menampung limbah minyak dari penduduk sekitarnya yang semakin padat sehingga lama kelamaan cemaran minyaknya menjadi tinggi. Pencemaran perairan laut oleh minyak bumi dapat ditunjukkan dengan diperolehnya angka konsentrasi bakteri pemecah minyak di suatu perairan. Apabila ditemukan bakteri pemecah minyak dengan kepadatan tinggi berarti perairan tersebut tercemar oleh minya. Mikroba bakteri pemecah minyak adalah biodegradasi dari minyak bumi sehingga dapat mengurangi kontaminasi. Penyebaran kepadatan bakteri pemecah minyak bumi sehingga dapat mengurangi kontaminasi. Penyebaran kepadatan bakteri pemecah minyak di permukaan laut berbeda-beda tergantug dari tingkat pencemarannya (Thayib et al, 1978). Daerah yang lebih tercemar oleh minyak bumi mempunyai kepadatan bakteri pemecah minyak yang lebih besar. Mengingat pentingnya fungsi Teluk Ambon maka informasi mengenai adanya pencemaran minyak sangat diperlukan untuk mengetahui kelayakan pemanfaatannya.

Pengamatan bakteri pemecah minyak di Teluk Ambon dilakukan dalam kurun waktu dari September 1996 sampai Maret 1997. Pada pengamatan ini ditentukan 5 stasiun tetap yang mewakili kondisi Teluk Ambon Bagian Luar dan Dalam, dimana diperkirakan terjadi cemaran minyak akibat dari aktifitas pelayaran kapal laut yang cukup tinggi maupun karena limbah rumah tangga yang mengandung minyak.

Contoh air laut diambil pada lapisan permukaan secara aseptic dengan menggunakan botol sampel steril. Dari botol sampel, contoh Air laut diambil sebanyak 10 ml, 1 ml dan 0,1 ml yang dimasukkan ke tabung reaksi berisi media mineral dan minyak tanah. Selanjutnya di inkubasikan pada suhu kamar dan dilakukan pengamatan terhadap perubahan yang terjadi. Pertumbuhan bakteri diyatakan postif apabila terbentuk lapisan putih keruh dibawah lapisan minyak. Untuk perhitungan kepadatan bakteri digunakan metode “most probable number (MPN)” menurut Ruyitno (1991).

Kegiatan industri migas sangat potensial menyebabkan pencemaran air, tanah, dan udara. Minyak yang merembes ke dalam tanah dapat menyebabkan tertutupnya suplai oksigen dan meracuni mikroorganisme tanah sehingga mengakibatkan kematian mikroorganisme tersebut. Tumpahan minyak di lingkungan dapat mencemari perairan dan tanah hingga ke daerah sub-surface dan lapisan aquifer air tanah.

Bioremediasi memainkan peranan penting yang makin meningkat pada remediasi lingkungan tercemar polutan organik dan telah diterima secara luas sebagai teknologi inovatif. Bioremediasi adalah suatu teknologi aplikasi proses biologis untuk melenyapkan bahan kimia beracun dan berbahaya dari lingkungan dengan melibatkan agen biologis seperti tanaman, mikroorganisme, dan enzim tanaman/mikroorganisme.

Untuk mengatasi pencemaran limbah minyak, maka diperlukan suatu cara penanggulangan yang efisien, efektif, ekonomis, dan tidak merusak lingkungan. Penelitian ini akan menguji sejauhmana keefektifan pemanfaatan bakteri pemecah minyak dalam proses bioremediasi. Dengan demikian, diharapkan dapat diperoleh jenis bakteri yang dapat mendegradasi minyak bumi secara cepat sehingga tidak lagi berperan sebagai pencemar di lingkungan.

Isolat bakteri Pseudomonas fluorescence, Bacillus subitilis, dan kultur campuran (Pseudornonas fluorescence T Bacillus subtilis) dapat digunakan dalam proses bioremediasi. Namun, bakteri Pseudomonas fluorescence pada pH 8 lebih cepat mendegradasi senyawa hidrokarbon pada tanah terkontaminasi minyak dengan laju biodegradasi sebesar 96,1 ppm/hari dan persentase penurunan sebesar 91,51%.

Kultur campuran pada pH 7 merupakan isolat dengan aktivitas metabolisme yang lebih tinggi dilihat dari total bakteri pemecah minyak, baik pada tanah terkontaminasi minyak maupun tanah tidak terkontaminasi minyak. Berdasarkan hasil kerjanya, kedua bakteri ini bersifat sinergisme.

Perlakuan kontrol (B0) mempunyai pH lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya, baik pada tanah terkontaminasi minyak maupun tanah tidak terkontaminasi minyak. Kegiatan bakteri pemecah minyak dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon menyebabkan penurunan pH.

Waktu degradasi berpengaruh terhadap total bakteri, dimana semakin lama waktu degradasi, maka semakin tinggi total bakteri sampai batas tertentu sebelum terjadi fase kematian. Waktu degradasi juga berpengaruh terhadap persentase degradasi senyawa hidrokarbon, dimana kandungan TPH yang terendah terdapat pada minggu II (T2). Proses bioremediasi ini telah berlangsung dengan baik karena kandungan TPH telah mencapai 1% atau kurang dari 10.000 ppm.

Pada tanah terkontaminasi minyak terdapat total bakteri pemecah minyak yang lebih tinggi dibandingkan tanah tidak terkontaminasi minyak. Bakteri pemecah minyak memanfaatkan senyawa hidrokarbon sebagai sumber energi dan sumber karbon sehingga meningkatkan pertumbuhan bakteri tersebut (http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=73066)

Lokasi perairan Ambang adalah tempat lalu lintas kapal angkutan penumpang (feri) yang diduga banyak memliki kontribusi terhadap tumpahan minyak di sekitar lokasi. Perairan di lokasi Wayame merupakan tempat lalu lintas kapal-kapal yang bermuatan minyak bumi karena terdapat dermaga pertamina tempat distribusi minyak bumi. Bulan November 1996, konsentrasi kepadatan bakteri di lokasi Wayame sama tinggi dengan lokasi Ambang. Pada bulan Desember 1996, konsentrasi kepadatan bakteri lebih tinggi dari lokasi yang lain. Kisaran angka konsentrasi kepadatan bakteri adalah sekitar 23-1100/100 ml. Lokasi pelabuhan Ambon merupakan tempat bersandarnya kapal-kapal baik besar maupun kecil untuk mengangkut penumpang maupun hasil tangkapan di laut.

Bakteri pemecah minyak adalah salah satu golongan bakteri heterotropik yang memerlukan minyak sebagai sumber energinya (Ruyitno, 1996). Bakteri ini akan mengurangi minyak menjadi nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Kecepatan penguraian minyak di laut sangat tergantung pada komponen dan jenis minyak, oksigen, pH, zat hara, jenis bakteri dan jumlah pemangsa bakteri (Law et.al dalam Ruyitno, 1995). Pada hasil penelitian Thayib (1978) menunjukkan bahwa bakteri pemecah minyak memang sudah ada di dalam laut. Fluktuasi penyebaran minyak sangat tergantung pada beberapa faktor seperti arus dan penguapan (Nybakken, 1982), sehingga angka kepadatan sebaran bakteri pemecah minyak berbeda-beda. Pada perairan yang tercemar oleh minyak akan ditemukan bakteri pemecah minyak dengan konsentrasi yang tinggi.

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satu pun makhluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan mengandung air. Sel hidup, baik tumbuh-tumbuhan ataupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air, seperti di dalam sel tumbuh-tumbuhan terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel hewan terkandung lebih dari 67% (Suriawiria,1985).

Masalah yang paling pelik yang harus dihadapi dalam masalah mengolah air adalah karena semakin meningkat dan tingginya pencemaran yang memasuki badan air. Pencemaran tersebut berasal dari:

  1. Sumber domestik, yang terdir dari rumah tangga.
  2. Sumber non-domestik, yang terdiri dari kegiaan pabrik, industry, pertanian dan sebagainya.

Perairan alami memang merupakan habitat atau tempat yang sangat parah dikenai oleh pencemaran. Sehingga kalau sejak di SLTA dulu kita mengenal rumus kimia air adalah H2O, ternyata itu adalah rumus kimia air yang hanya berlaku untuk air-air bersih seprti aquades, akua-demin, dan sebagainya. Sedang untuk air alami yang berada di dalam sungai, kolam, danau laut dan sumber-sumber lainnya, rumus tersebut menjadi:

H2O + X

Di mana X berbentuk:

a. Faktor yang bersifat hidup (biotik).

b. Faktor yang bersifat tidak hidup (abiotik).

1. Kelompok Kehidupan di dalam Air

Faktor-faktor biotis yang yang terdapat di dalam air terdiri dari:

1. Bakteria.

2. Fungi atau jamur.

3. Mikroalgae atau ganggang mikro.

4. Protozoa atau hewan bersel tunggal.

5. Virus.

Serta sekumpulan hewan ataupun tanaman air lainnya yang tidak termasuk kelompok mikroba (Suriawiria,1985). Penyebaran mikroorganisme dalam lingkungan akuatik Mikroorganisme dalam suatu lingkungan akuatik mungkin terdapat pada semua kedalaman, berkisar dari permukaan sampai ke dasar parit-parit yang paling dalam di dasar lautan. Populasi terbesar mikroorganisme menghuni lapisan teratas dan sedimen dasar, terutama di perairan dalam (Pelczar,1988). Plankton (fitoplankton dan zooplankton). Kumpulan organisme hidup yang sebagian besar terdiri dari mikroorganisme, yang terapung dan hanyut pada permukaan ekosistem akuatik, dinamakan plankton. Populasi plankton terdiri dari algae (fitoplankton), protozoa, hewan kecil (zooplankton), dan mikroorganisme lain.

Mikroorganisme fototrofik dianggap sebagai plankton yang paling penting karena merupakan produsen primer bahan organik ; artinya, pelaku fotosintesis. Sebagian besar organism planktonik dapat bergerak, atau mengandung tetesan minyak, atau memiliki struktut khusus yang memungkinkan mereka mengapung ; kesemua cirri ini membantu organism tersebut mempertahankan lokasinya di zona fotosintetik yang berada di lapisan air bagian atas (Pelczar,1988).

Mikroorganisme bentik. Mikroorganisme yang merupakan penghuni suatu dasar. Perairan (lumpur tanah) dinamakan organisme bentik. Daerah terkaya akan jumlah dan macam organisme pada sistem muara-laut ialah daerah bentik, yang terbentang dari pasang naik sampai suatu kedalaman di tempat tanaman sudah jarang tumbuh. Daerah dasar laut mengandung berjuta-juta bakteri per gram (Pelczar,1988).

Keadaan fisik dan komponen-komponen kimiawi yang mencirikan daerah perairan di antara zona planktonik dan bentik sangat bervariasi sehingga tidak ada gunanya untuk mencoba membuat gambaran umum. Pikirkanlah sejenak mengenai perbedaan antara kolam dan lautan!. Kolam dan danau juga memiliki zonasi dan stratifikasi yang khas, dan telah tersedia banyak informasi mengenai populasi mikrobiologis yang menghuninya (Pelczar,1988).
Peranan mikroorganisme

Menurut suriawiria (1985), kehadiran mikroba di dalam air, mungkin akan mendatangkan keuntungan tetapi juga mungkin mendatangkan kerugian.

1) Mendatangkan keuntungan

  1. Banyak plankton, baik yang terdiri dari plankton-tumbuh-tumbuhan (fitoplankton) ataupun plankton-hewan (zooplankton), merupakan makanan utama ikan-ikan kecil. Sehingga kehadirannya meupakan tanda kesuburan kolam ikan misalnya, untuk perikanan. Ini misalnya untuk jenis-jenis microalgae: Chlorella, Scenedesmus, Hydrodiction, Pinnularia, Sinedra, dan sebagainya.
  2. Banyak jenis bakteri atau fungi di dalam badan air berlaku sebagai jasad decomposer. Artinya jasad tersebut mempunyai kemampuan untuk mengurai atau merombak senyawa yang berada (masuk) ke dalam badan air. Sehingga kehadirannya telah dimanfaatkan di dalam rangka pengolahan buangan di dalam air secara biologis.
  3. Pada umumnya microalgae mempunyai klorofil, sehingga dapat melakukan proses fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis tersubut akan menambah jumlah (kadar) oksigen di dalamnya, sehingga nilai kelarutan oksigen (umumnya disebut DO atau dissolved oxygen) akan naik atau bertambah.
  4. Kehadiran hasil uraian senyawa hasil rombakan bakteri atau fungi, ternyata digunakan atau dimanfaatkan oleh jasad-jasad lain, antara lain oleh microalgae, oleh bakteri atau fungi sendiri. Sehingga dalam masalah ini jasad-jasad pengguna tersebut dinamakan consumer atau jasad pemakai. Tanpa adanya jasad pemakai, kemungkinan besar penimbunan (akumulasi) hasil uraian tersebut dapat mengakibatkan keracunan terhdap jasad lain, khususnya ikan.

2) Mendatangkan kerugian

a. Yang paling dikhawatirkan adalah kalau di dalam badan air terdapat jasad-jasad mikro penyebab penyakit, seperti:

a)         Salmonella penyebab penyakit tifus

b)        Shigella penyebab penyakit disentri-basiler

c)         Vibrio penyebab penyakit kolera

d)        Entamoeba penyebab penyakit disentri-amuba

e)         Ascaris penyebab penyakit cacing, dan banyak contoh-contoh lainnya.

b. Juga didalam air banyak ditemukan mikroba penghasil toksin (racun) yang sangat berbahaya, seperti:

a)      Yang hidup anaerobic seperti Clostridium

b)      Yang hidup aerobic seperti Pseudomonas, Salmonella, Staphylococcus, dan sebagainya.

c)      Toksin juga dihasilkan oleh beberapa jenis microalgae seperti Anabaena dan Microcystis.

Peranan Mikroorganisme Dalam Ekologi Lautan Bakteri ada dimana-mana. Dalam tanah, air dan udara. Bahkan dalam perut hewan dan manusia, di sumber air panas dan di lapisan es yang amat dingin. Awam seringkali menyikapi secara keliru keberadaan mikro-organisme ini, dengan menilainya secara pukul rata sebagai sumber penyakit yang merugikan. Ilmuwan Belanda, Antoni van Leeuwenhoek pada 350 tahun lalu, memang mula-mula meneliti makhluk hidup mikro yang tidak kasat mata itu untuk mencari biang keladi penyebab penyakit (Anonim,2009).

Sejak penelitian perdana menggunakan mikroskop sederhana hingga zaman modern ini, para ilmuwan juga masih memfokuskan penelitian pada mikro-organisme yang memicu penyakit. Baru beberapa tahun terakhir ini, fokusnya beralih pada peranan mikro-organisme bagi ekologi secara keseluruhan. Dengan metode biologi molekuler terbaru, para peneliti dapat semakin mengerti sifat-sifat organisme sel tunggal (Anonim,2009).

Bakteri menguraikan secara aktif semua unsur organik, dan mengubahnya menjadi unsur organik bagi kepentingannya. Lebih lanjut unsur ini menjadi makanan organisme bersel tunggal, yang kemudian membentuk biomassa yang menjadi makanan ikan dan selanjutnya menjadi makanan bagi pemangsa lain yang berderajat lebih tinggi. Jadi bakteri adalah makanan bagi pemangsa berderajat lebih tinggi, tapi pada akhir rantai makanan, bakteri juga yang menguraikan bangkai paus. Karena itu, sebetulnya mikro-organisme adalah aktor utama dalam system kelautan (Anonim,2009).

Akan tetapi, sejauh ini para peneliti amat sulit melacak rahasia di balik habitat bakteri. Sebab, kebanyakan bakteri hidup dalam lingkungan yang amat kompleks, dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Di luar habitatnya, bakteri biasanya langsung mati. Itulah sebabnya, amat sulit mengembangbiakkan bakteri di laboratorium (Anonim,2009).saat ini para peneliti berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Menyangkut lokasi, temperatur, kadar garam, kadar oksigen dan dimana atau dalam kondisi apa kode genetika ini muncul. Para peneliti hendak mengamati pengaruh faktor lingkungan terhadap habitat bakteri ini selama tiga tahun. Hasil penelitian dan anilisisnya, akan dijadikan basis bagi penelitian selanjutnya, serta landasan bagi peramalan kondisi lingkungan di masa depan. Misalnya, bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap habitat bakteri secara keseluruhan, yang berarti juga terhadap ekosistem luas di Laut Utara (Anonim,2009).

Bioteknologi Mikroorganisme Laut

Bakteri laut adalah salah satu mikroorganisme yang mampu menjaga kesinambungan kehidupan di laut karena kemampuannya mendegradasi senyawa organik mulai dari yang sederhana hingga kompleks, yang masuk ke perairan laut (Kompas,2005).

Bioremediasi adalah usaha perbaikan lingkungan yang telah tercemar dengan menggunakan biota hidup. Salah satu contoh biota yang sering digunakan dalam uji coba perbaikan lingkungan laut yang tercemar minyak adalah bakteri laut hidrokarbonoklastik (bakteri pemecah minyak) yang jumlahnya lebih dari 200 spesies (Kompas,2005).

Bakteri laut juga dapat digunakan dalam industri farmakologi (obat-obatan), keperluan budidaya, maupun uji toksisitas. Di negara-negara maju, penelitian bakteri laut untuk keperluan farmakologi berkembang pesat. Pada umumnya bakteri laut penghasil senyawa aktif untuk keperluan obat-obatan hidup bersimbiosis dengan invertebrata (biota laut). Namun, senyawa aktif yang dihasilkan jumlahnya sangat sedikit (Kompas,2005).

Dalam bidang budidaya, salah satu masalah yang dihadapi adalah penyakit. Penyakit bakterial pada biota budidaya dapat menjadi penyebab kerugian karena selain kematian massal, juga menyebabkan ditolaknya produk budidaya yang diekspor ke luar negeri. Untuk membasmi penyakit bakterial pada biota budidaya pada umumnya digunakan senyawa kimia (antibiotik). Namun, penggunaan senyawa kimia tersebut tidaklah efektif karena dapat menimbulkan efek samping. Kini, upaya membasmi penyakit secara biologi yang tak menimbulkan efek samping telah banyak dilakukan dengan memanfaatkan sifat antagonisme di antara bakteri. Bakteri penyebab penyakit pada biota budidaya dapat dilawan atau dihambat oleh bakteri lain (Kompas,2005).

Mikroorganisme yang digunakan untuk keperluan tersebut disebut biokontrol dan salah satunya adalah menggunakan bakteri sebagai probiotik. Di dalam bidang budidaya, probiotik adalah bakteri yang digunakan tidak hanya untuk mengendalikan bakteri patogen, tetapi juga sebagai suplemen bahan makanan dan meningkatkan kualitas air (Kompas,2005).

Kegunaan lain bakteri laut adalah untuk menguji toksisitas. Di Amerika, semua penemuan produk bahan kimia baru sebelum diproses oleh pabrik harus sudah diuji coba in-vitro bioassay. Assay ini untuk memprediksi efeknya terhadap kesehatan dan efek ekologinya. Salah satu tes untuk menguji toksisitas senyawa kimia adalah uji luminescence (microtox assay) dan bakteri luminescence (mampu mengeluarkan cahaya) adalah salah satu biota yang digunakan dalam microtox assay. Assay ini adalah salah satu assay yang sudah sangat luas digunakan untuk uji produk senyawa kimia baru. Hal ini disebabkan waktu yang diperlukan cepat, relatif tidak mahal, dan tidak membutuhkan ruangan yang besar daripada tes bioassay menggunakan ikan. Bakteri luminescence ini banyak ditemukan di perairan laut, dapat hidup secara bebas, dan dapat juga menempel pada organisme yang lebih besar (Kompas,2005).

Berdasarkan uraian di atas, ternyata bakteri memang mempunyai banyak peranan. Indonesia yang sudah dikenal sebagai negara kaya akan keanekaan hayatinya, termasuk di dalamnya bakteri laut, tentu masih banyak lagi yang bisa digali pemanfaatannya untuk berbagai keperluan melalui bioteknologi (Kompas,2005)

(http://rengkiik08.blogspot.com/2011/01/peranan-mikroorganisme-dalam-ekologi.html).

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Bakteri memang mempunyai banyak peranan. Indonesia yang sudah dikenal sebagai negara kaya akan keanekaan hayatinya, termasuk di dalamnya bakteri laut, tentu masih banyak lagi yang bisa digali pemanfaatannya untuk berbagai keperluan melalui bioteknologi Mikrobiologi akuatik adalah telaah mengenai mikroorganisme serta kegiatannya di perairan tawar, muara, dan marin, termasuk mata air, danau, sungai, dan laut. Bidang itu menelaah virus, bakteri, algae, protozoa, dan cendawan mikroskopik yang menghuni perairan alamiah ini (Pelczar,1988).

Mikroorganisme ini beserta kegiatannya dalam banyak amatlah penting. Mereka dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan kehidupan hewan; mereka menempati posisi kunci di dalam rantai makanan dengan cara menyediakan makanan bagi kehidupan akuatik berikutnya yang bertaraf lebih tinggi. Mereka membantu berlangsungnya rantai reaksi biokimia yang mengatur daur ulang unsur-unsur, seperti yang terjadi di dalam tanah (Pelczar,1988). Mikrobiologi menjadi makin penting dengan adanya urbanisasi yang disertai meningkatnya kebutuhan masyarakat akan air, pentingnya perairan alamiah sebagai reservoir utama, penyelidikan lepas pantai untuk mendapatkan minyak dan mineral, didirikannya badan perlindungan keadaan lingkungan, serta perkembangan-perkembangan lainnya (Pelczar,1988).

  1. Saran

Saran kepada semua manusia agar menjaga keseimbangan bumi. Pengurangan limbah, pemanfaatan bahan organik agar dapat lebih diperhatikan dan diatur untuk kemudahan semua proses keseimbangan alam agar semua daur-daur berjalan dengan normal.

DAFTAR PUSTAKA

Cautrier, P.L. 1976. Pencemaran Laut. Seminar Pencemaran Laut. Buku II. Proceeding: 174-186.

Hutomo, .M., Romimohtarto, .K., Burhanuddin. Teluk Jakarta Sumber Daya, Sifat sifat Oseanologis, serta permasalahannya. Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI. Jakarta. 1977.

Indah, Lies. 1997. Sebaran Bakteri Pemecah Minyak di Teluk Ambon. Seminar Kelautan LIPI-UNHAS Balitbang Sumberdaya Laut-Puslitbang Oseanologi-LIPI, Ambon 4-6 Juli 1997 : 260-264

Nybakken, J.W., 1982. Marine Biology: An Ecological Approach. Terjemahan: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (1992) : 422-430

Rusmendro, Hasmar. 2003. Seri Diktat Kuliah Ekologi Tumbuhan. Jakarta: Unas Press.

Ruyitno, 1991. Pengantar Praktikum Bakteria Petunjuk Pencemaran di Suatu Perairan. Status Pencemaran Laut Di Indonesia Dan Tehnik Pemantauannya, P3O-LIPI : 71-77

Ruyitno, 1995. Pengaruh Berbagai Konsentrasi ‘Crude Oil’ Terhadap Biomasa Bakteri dala Mesokosme. Prosiding Seminar Kelautan Nasional. Panitia Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan Serta Industri Maritim, [22:1-7

Ruyitno, 1996. Efek ‘Crude Oil’ Terhdap Bakterioplankton dalam Mesokosme. Inventarisasi Dan Evaluasi Lingkungan Pesisir Oseanografi, Geologi, Biologi Dan Ekologi, P3O-LIPI : 131-140

Thayib, S.S.,1978. Beberapa Catatan Mengenai Mikroba Hidrokarbonoklastik dari Perairan Pantai dan Lepas Pantai di Teluk Jakarta. Oseanologi Di Indonesia. 10 : 1-7

http://cyber-biology.blogspot.com/2008/07/peningkatan-toleransi-isolat-rhizobium.html.

http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Biologi/DAUR%20BIOGEOKIMIA.swf.

http://freewebs.com/ciget/daur%20biogeokimia.html.

http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/17/daur-biogeokimia/.

http://jelajahbio.blogspot.com/2008/05/daur-bersifat-sedimen.html.

http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_files/mp_299/latihan.html.

http://rengkiik08.blogspot.com/2011/01/peranan-mikroorganisme-dalam-ekologi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s